Show Notes
- Amazon USA Store: https://www.amazon.com/dp/0062458205?tag=9natree-20
- Amazon Worldwide Store: https://global.buys.trade/Chaos-Monkeys%3A-Obscene-Fortune-and-Random-Failure-in-Silicon-Valley-Antonio-Garcia-Martinez.html
- eBay: https://www.ebay.com/sch/i.html?_nkw=Chaos+Monkeys+Obscene+Fortune+and+Random+Failure+in+Silicon+Valley+Antonio+Garcia+Martinez+&mkcid=1&mkrid=711-53200-19255-0&siteid=0&campid=5339060787&customid=9natree&toolid=10001&mkevt=1
- Shopee: https://asia.buys.trade/shopee_Chaos-Monkeys-Antonio-Garcia-Martinez.html
- Lazada: https://asia.buys.trade/lazada_Chaos-Monkeys-Antonio-Garcia-Martinez.html
- Tiktok: https://asia.buys.trade/tiktok_Chaos-Monkeys-Antonio-Garcia-Martinez.html
- Baca selengkapnya: https://indonesia.9natree.com/read/0062458205/
#Metaforachaosmonkey #Modalventuradanekuitas #Periklananberbasisdata #MonetisasiFacebook #Politikinternalstartup #ChaosMonkeys
Chaos Monkeys: Obscene Fortune and Random Failure in Silicon Valley adalah memoar bisnis dan teknologi karya Antonio García Martínez, seorang mantan pekerja Wall Street, pendiri startup AdGrok, serta mantan karyawan Facebook. Buku ini mengikuti perpindahannya dari dunia keuangan kuantitatif menuju ekosistem startup, penjualan perusahaannya kepada Twitter, dan pekerjaannya di tim periklanan Facebook sebelum perusahaan itu melantai di bursa. Namun, ini bukan kisah sukses perusahaan rintisan yang rapi dan penuh resep. García Martínez menggambarkan Silicon Valley sebagai lingkungan yang dibentuk oleh ambisi, modal ventura, persaingan internal, dan keputusan yang sering kali kacau. Metafora chaos monkey, perangkat yang sengaja menguji ketahanan sistem dengan menciptakan gangguan acak, dipakai untuk menjelaskan peran pengusaha teknologi sebagai pengacau tatanan lama. Dengan gaya tajam, provokatif, dan sangat personal, buku ini berupaya membuka cara kerja ekonomi perhatian, periklanan digital, serta permainan kekuasaan di balik perusahaan teknologi besar. Pembaca juga perlu menyadari bahwa sejumlah bagian buku ini menuai kritik karena bahasanya yang dianggap merendahkan dan misoginis.